"Dari situlah kemudian Tito ngomong sama keluarga termasuk saya, bagaimana kalau rumah makan gratis itu diterapkan di Indonesia," paparnya.
Mendengar ucapan Tito, Sony mengaku bersama keluarga sempat kaget dengan ide tersebut. Sebab, hal itu dikhawatirkan hanya akan bertahan sebentar.
"Ide itu muncul dari Tito setengah tahun lalu (awal tahun 2020). Masih ingat ucapan saya, apa ide itu sudah dipikirkan matang dan niat yang kuat. Jangan sampai nantinya putus ditengah jalan," sebutnya.
"Dia (Tito) kemudian menjawab, iyak aku yakin dan makanya minta pendapat serta saran dari kalian semua," sambungnya yang menirukan ucapan Tito.
Baca Juga:Warung Makan Rakyat Gratis di Depok
Akhirnya, Sony menyebut, keluarga sepakat dengan usulan Tito tersebut dan membantunya untuk merealisasikan rumah makan gratis tersebut.
Kemudian, Sony melanjutkan, perundingan rumah makan gratis itu pun tidak hanya sekali atau dua kali. Namun, perundingan dilakukan berkali-kali.
"Kita memikirkan lokasi rumah makan, konsepnya, hingga nama dari rumah makan itu sendiri. Cukup panjang perundingannya," katanya.
"Perundingan yang cukup panjang dampaknya. Karena rumah makan ini dibangun, jangan sampai niat ibadah justru menjadi riya, dan ingin dipuji," sambungnya.
Selain itu, Sony mengungkapkan, keluarga juga memikirkan persoalan nama setelah kalimat dari rumah makan gratis. Akhirnya sepakat memilih nama uwais.
Baca Juga:Mantap, Warung Ini Kasih Promo Makan Gratis Buat yang Namanya Bu Tejo
Nama uwais diambil dari seorang pemuda yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW, yakni Uwais Al-Qarni. Uwais berasal dari penduduk Qarn, wilayah Arab Saudi dekat perbatasan di Yaman.