"Masjid Kali Pasir ini pun dibangun sebagai persinggahan para ulama utusan Kerajaan Pajajaran," tuturnya.
Sebagai tempat bertapa, masjid yang berdampingan dengan kelenteng tertua di Tangerang Boen Tek Bio ini awalnya berbentuk bangunan sederhana, seperti tempat singgah atau bale bambu.
"Setelah tahun 1608, petilasan (tempat singgah—red) berlantai tanah hitam dengan empat tiang pancang dari kayu kelapa beratap daun kelapa itu diperbaiki," ungkapnya.
Kata Sjahrodji, para pendiri Masjid Kali Pasir merupakan pimpinan Kota Tangerang pada masa itu.
Baca Juga:Cara Memandikan Jenazah dengan Tubuh Tak Utuh Menurut Agama Islam
Salah satunya adalah Temanggung Paku Wijaya yang memperbesar bangunan Masjid Kali Pasir pada 1671.
![Sejumlah warga menjalani salat berjamaah di Masjid Kali Pasir, Kelurahan Sukajadi, Kota Tangerang, Senin (28/12/2020). [Suara.com/Hairul Alwan]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/12/28/52028-masjid-kali-pasir-tangerang.jpg)
Saat ini, masih terlihat, empat tiang utama bangunan masjid dengan bahan kayu yang terpancang rapi.
Keempat kayu berwarna hitam tersebut kini diberikan kerangka besi di bagian luar bercat kuning keemasan.
"Itu besi untuk berjaga-jaga kalau kayu keropos," jelas Sjahrodji.
Harmonisasi Antar Agama
Baca Juga:Hukum Mengucapkan Selamat Natal dalam Islam, Boleh atau Tidak?
Seiring waktu, Kota Tangerang terus berganti kepemimpinan. Hal tersebut juga tercatat dalam sejarah pembangunan Masjid Kali Pasir.