Asal Usul Nama Jembatan Lima dan Kisah 5 Kepala Kampung, Nama Depannya "Bek"

Di wilayah Jembatan Lima ada banyak nama kampung, jalan atau gang yang namanya sudah hilang,

Pebriansyah Ariefana
Kamis, 03 Juni 2021 | 07:10 WIB
Asal Usul Nama Jembatan Lima dan Kisah 5 Kepala Kampung, Nama Depannya "Bek"
Asal usul nama Jembatan Lima di Jakarta Barat. Jembatan Lima salah satu pusat perdagangan di barat Jakarta. (encyclopedia jakarta)

SuaraJakarta.id - Asal usul nama Jembatan Lima di Jakarta Barat. Jembatan Lima salah satu pusat perdagangan di barat Jakarta. Di sana juga salah satu kampung tua di wilayah Jakarta.

Konon di daerah ini terdapat lima buah jembatan yang dilalui oleh Sungai Jembatan Lima. Kelima jembatan itu adalah Jembatan Jalan Hasyim Ashari, Jembatan Kedung, Jembatan Jalan Petuakan, Jembatan Jalan Sawah Lio 2, dan Jembatan Jalan Sawah Lio 1.

Seperti dilansir Encyclopedia Jakarta, Jembatan terbesar adalah Jembatan Jalan Sawah Lio 1.

Namun kelima jembatan dan sungainya sudah tidak ada lagi. Selain Sungai Jembatan Lima, di kampung ini dialiri pula oleh Sungai Cibubur. Dinamakan Cibubur karena sungainya yang seperti bubur, kotor, dan banyak lumpur.

Baca Juga:Heboh akan Ada Rapat Akbar Demit Malang Raya di Jembatan, Begini Ceritanya

Di wilayah Jembatan Lima ada banyak nama kampung, jalan atau gang yang namanya sudah hilang, seperti Kampung Sawah Lio, Patuakan, Kerendang, Petak Serani, Gudang Bandung, Teratai, Tambora, Gang Laksa, Gang Daging, dll. Dinamakan Sawah Lio karena dulu selain ada sawah juga ada tempat pembakaran batu bata (lio) yang tempatnya dekat jembatan.

Kampung Sawah Lio wilayahnya meliputi Kampung Sawah Gang Guru Mansur (selanjutnya bernama Jalan Sawah Lio 1) dan Kampung Sawah Masjid (selanjutnya bernama Jl. Sawah Lio 2). Disebut Kampung Sawah Gang Guru Mansur karena di sana tinggal seorang tokoh dan guru agama Islam benama Kiai Haji Moch. Mansur dan Kampung Sawah Masjid karena terdapat Masjid Al-Mansur.

Di Kampung Sawah terdapat sebuah gang yang disebut Gang Laksa, karena di sana tinggal beberapa orang kaya yang mempunyai uang berlaksa-laksa (berjuta-juta), seperti H. Djakaria pemilik empang-empang yang ada di Pasar Ikan dan H. Tosim pemilik rumah sewaan.

Sedang Kampung Kerendang disebut demikian karena setiap musim hujan selalu tergenang air (banjir).

Nama Kampung Patuakan karena di sana tempat mangkal penjual minuman tuak. Nama Petak Serani karena dulu ada petak-petak yang dihuni oleh orang Serani (Kristen). Nama Kampung Teratai karena ada rawa-rawa yang dipenuhi oleh bunga teratai.

Baca Juga:Plengsengan Jembatan Kedung Kandang Malang Ambrol, Bangsa Demit Gelar Rapat

Nama Tambora karena tiap pagi di asrama tentara terdengar suara tambur. Nama Jalan Gudang Bandung karena dulu di tempat itu ada gudang penyimpanan barang yang akan dikirim dengan KA ke Bandung.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini