Selama pandemi Covid-19 menghajar Tanah Air, pendapatan Ardhi sangat menurun. Saat ini, kebijakan PPKM Darurat yang melarang pedagang non kebutuhan logistik alias makanan menambah daftar panjang kerugian usaha Ardhi.
Pria yang bermukim di kawasan Jakarta Timur itu mengaku, selama masa PPKM Darurat, penghasilan menurun drastis. Sebabnya, pembeli barang yang dijual Ardhi hanya berasal dari kalangan tertentu, misalnya Dinas, Kementerian, hingga Partai.
Padahal sebelum pandemi terjadi, setidaknya dia bisa meraup untuk mencapai angka Rp. 3 juta dalam sehari. Sangat jelas, hal tersebut berbanding terbalik dengan situasi saat ini.
"Penurunan ya kalau bisa dikatatakan selama PPKM Darurat ini sampai 100 persen lah. Kalau hari biasa, kita buka nih, ada saja harapanya sehari dapat Rp 2-3 tiga juta-an. Sekarang boro-boro, jualan saja gak bisa. Artinya gak untung sama sekali lah," ungkapnya, lirih.
Baca Juga:Resmi! PPKM Darurat Diperpanjang hingga Akhir Juli 2021
![Penjual plakat, medali hingga bendera di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Jumat (16/7/2021). [Suara.com/Yosea Arga Pramudita]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/07/16/97350-penjual-plakat-di-pasar-senen.jpg)
"Ya orang yang beli barang dagangan saya kan segmented. Biasa dari dinas, kementerian, partai. Ya yang pesan plakat-plakat untuk kebutuhan seminar gitu juga. Tapi kan acara-acara seminar selama pandemi juga jarang," ujar dia.
Situasi berat lainnya adalah kondisi dua orang karyawan yang bekerja pada Ardhi. Karena tidak bisa berjualan sama sekali, dengan berat hati Ardhi harus memulangkan dua orang karyawannya.
Terhitung pada hari pertama kebijakan PPKM Darurat, dua karyawannya telah pulang ke kawasan Jawa Tengah. Dia mengatakan, ketimbang bertahan hidup di Ibu Kota tanpa kepastian, lebih baik dua karyawannya kembali ke kampung halaman.
"Saya punya karyawan ada dua orang. Sekarang ya saya pulangin mau tidak mau. Karyawan saya pulang kampung pas awal-awal PPKM. Kasihan kan di sini mau apa? Kerja tidak bisa, tinggal di Jakarta butuh uang dan lain-lain," beber dia.
Tak hanya itu, rupanya ada hal yang membikin perasaan tidak enak dalam diri Ardhi menyeruak. Momen itu terjadi manakala dia harus berbicara secara jujur kepada dua karyawannya ihwal kondisi hari ini.
Baca Juga:PPKM Darurat dan Omzet Turun, Pedagang Hewan Kurban di Bekasi Menjerit
"Pas mulangin karyawan saya ngomongnya juga tidak enak. Saya jelasin, kondisinya seperti ini, kios tidak bisa buka," ujarnya.