Cerita Penghuni Rusun Marunda yang 'Dipaksa' Menghirup Polusi Debu Batu Bara Bertahun-tahun

Warga Rusunawa Marunda mengeluhkan pencemaran udara di lingkungan tempat mereka tinggal, lantaran aktivitas bongkar muat batu bara di sekitaran Rusunawa.

Chandra Iswinarno
Selasa, 15 Maret 2022 | 12:40 WIB
Cerita Penghuni Rusun Marunda yang 'Dipaksa' Menghirup Polusi Debu Batu Bara Bertahun-tahun
Lokasi bongkar muat batu bara yang jaraknya tak jauh dari tempat tinggal warga di Rusunawa Marunda. [Suarajakarta.id/Faqih Fathurrahman]

SuaraJakarta.id - Warga Rusunawa di Kawasan Marunda Jakarta Utara (Jakut) mengeluhkan adanya pencemaran udara di lingkungan tempat mereka tinggal, lantaran aktivitas bongkar muat batu bara yang tak jauh dari rumah susun tersebut.

Warga mengeluhkan debu batu bara yang beterbangan terbawa angin sehingga membuat tempat tinggal mereka kotor, bahkan beberapa orang merasakan sesak nafas akibat pencemaran tersebut.

Ketua RT 16 RW 07 Abdul Aziz mengungkapkan, setiap hari merasakan debu batu bara saat angin bertiup mengarah tempat tinggalnya. Dampaknya, saat ini Aziz kerap merasakan sesak napas ketika pagi hari.

Warga penghuni Rusunawa Marunda Jakarta Utara memperlihatkan debu batu bara yang menempel di rumahnya. Kondisi tersebut membuat pernapasan warga terganggu dan juga menjadi persoalan kesehatan yang membayangi warga setempat. [Suarajakarta.id/Faqih Faturrachman].
Warga penghuni Rusunawa Marunda Jakarta Utara memperlihatkan debu batu bara yang menempel di rumahnya. Kondisi tersebut membuat pernapasan warga terganggu dan juga menjadi persoalan kesehatan yang membayangi warga setempat. [Suarajakarta.id/Faqih Faturrachman].

“Kalau pagi, napas saya agak sedikit sedik sesak. Pas baru bangun tidur itu berasa banget agak sesak,” kata Aziz saat ditemui Suara.com, di Rusunawa Marunda, Jakarta Utara, Senin (14/3/2022).

Baca Juga:Debu Batu Bara Tebar Penyakit hingga Diprotes Warga Marunda, F-PDIP DPRD DKI Bakal Panggil Pemprov dan PT KCN

Dari pantauan Suara.com di lapangan, klaster D Rusanawa Marunda merupakan bangunan terdekat dengan gundukan batu bara.

Jarak antara gundukan batu bara dengan bangunan D Rusunawa sekitar 200-300 meter. Jika embusan angin mengarah ke bangunan Rusunawa, bau debu batubara juga bisa dirasakan meski tidak ada aktivitas bongkar muat.

Tak hanya itu, lantai dan jendela warga pun dihinggapi banyak debu batu bara, meski baru saja dibersihkan. Debu akan semakin menumpuk jika sedag ada aktivitas bongkar muat batuara.

Senada dengan Abdul Aziz, warga lainnya, Yummi mengaku kelelahan karena harus membersihkan rumahnya hingga lima kali dalam sehari akibat debu batu bara tersebut, apalagi ia membuka usaha warung rumahan.

Ia mengeluhkan dengan keadaan saat ini, yang dianggapanya sudah tidak manusiawi karena bersama ratusan warga lainnya 'dipaksa' menghirup udara yang berdebu.

Baca Juga:Polusi Debu Batu Bara Rusak Paru-paru, Warga Marunda: Nanti Anak Kami Tak Bisa Daftar Polisi-PNS

“Saya bersih-bersih rumah bisa empat hingga lima kali sehari. Saya kan buka warung, kalau dagangan berdebu siapa yang mau beli,” tuturnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini