INSTRAN: Rute Baru KRL Menambah Derita Difabel, Lansia hingga Ibu Hamil

"Kesuksesan transportasi umum adalah meminimalisasi transit bukan malah menambah transit," ungkap Deddy.

Rizki Nurmansyah | Ummi Hadyah Saleh
Rabu, 08 Juni 2022 | 23:18 WIB
INSTRAN: Rute Baru KRL Menambah Derita Difabel, Lansia hingga Ibu Hamil
Sejumlah menunggu kereta saat penerapan switch over (SO) ke-5 di Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (30/5/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]

Kemudian di tahun 2019, pengguna dari Bogor ke Sudirman/Tanah Abang/Angke sebanyak 73.848.157 orang per tahun. Sementara dari Cikarang/Bekasi lebih sedikit yakni 53.673.499 orang per tahun.

"Dari data tersebut sebenarnya malah blunder bila data penumpang terbanyak malah diminta transit di Manggarai. Hasil SO5 tersebut membuktikan bahwa perencanaan pola pelayanan di Manggarai hanya berdasar atas kemudahan melayani kereta api, bukan kepada hakikat kemudahan pelayanan penumpang atas tarikan perjalanan," paparnya.

Dalam hitungan INSTRAN, jika ditilik saat ini jumlah perjalanan kereta (perka) setelah SO5, KRL dari Bogor/Depok ke Manggarai sebanyak 167 perka. Sementara KRL loop feeder dan KRL Cikarang/Bekasi ke Sudirman/Tanahabang/Duri/Angke hanya sebanyak 75 perka.

"Jumlah perka sangat tidak berimbang, berbanding 1:2,2 sehingga tidak dapat dikatakan sebagai dintegrasi jadwal KRL. Dengan asumsi KRL loop feeder dengan headway rerata 10 menit, bila berbanding 1:2,2 maka pengguna lintas Bogor/Depok berpotensi menunggu headway sampai 20 menit di Manggarai bila akan melanjutkan ke Sudirman atau Tanah Abang. Kondisi tidak berimbangnya perka tersebut akan mengakibatkan pengguna KRL menumpuk di peron Manggarai," ucap Deddy.

Baca Juga:Stasiun Manggarai Kini Padat, Pemprov DKI Bakal Bahas Pembebasan Lahan dengan Pusat

Melihat kondisi tersebut, Deddy menyarankan regulator dan operator kereta api segera mengevaluasi kembali SO5 tersebut.

Idealnya, kata Deddy, perencanaan pelayanaan outcome hanya untuk kemudahan layanan penumpang bukan kepada layanan kemudahan operasi perkeretaapian.

"Harapan pengguna KRL bahwa layanan di Manggarai dikembalikan seperti sedia kala, yakni pengguna terbanyak dari Bogor/Depok bila mau ke Sudirman/Tanahabang tidak perlu transit. Kesuksesan transportasi umum adalah meminimalisasi transit bukan malah menambah transit," ungkap Deddy.

Apabila tetap tidak berubah pelayanan SO5 tersebut, maka lebih baik dengan kondisi eksisting saat ini di Manggarai, maka perbandingan perka antara KRL loop/feeder Angke/Tanahabang/Sudirman (dari Cikarang/Bekasi) dan perka Bogor/Depok adalah 1:1 sehingga ada jadwal KRL yang terintegrasi.

"Kalau jumlah sarana KRL masih terbatas paling tidak harapan perbandingannya 1:1,5. Jika perbandingan berimbang maka dipastikan tidak ada lagi penumpukan di Manggarai. Diharapkan lagi ada penambahan tangga untuk transit dari lantai 3 ke lantai 1 untuk kemudahan penumpang transit," kata dia .

Baca Juga:Mau Gantikan Gambir, Pengamat Ungkap Sederet Permasalahan Stasiun Manggarai

Lebih lanjut, Deddy menuturkan jika lebih kreatif dalam desain stasiun, transit dapat dilakukan hanya dalam 1 peron. Yakni 1 peron dengan 2 jalur dengan lintas KRL berbeda tujuan untuk transit atau 1 jalur 1 peron dengan 2 lintas KRL tujuan yang berbeda untuk transit.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini