Tasmalinda
Minggu, 18 Januari 2026 | 18:26 WIB
Pemimpin Tinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. [AFP]
Baca 10 detik
  • Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengakui ribuan orang tewas dalam protes besar di Iran melalui pidato Sabtu, 17 Januari.
  • Khamenei menyalahkan Amerika Serikat dan Israel atas kerusuhan tersebut, menyebut mereka menyebabkan kerusakan besar di Iran.
  • Pengakuan ini merupakan momen penting karena kontras dengan penyangkalan resmi otoritas Iran sebelumnya mengenai skala kekerasan.

SuaraJakarta.id - Untuk pertama kalinya sejak gelombang protes besar-besaran mengguncang Iran awal tahun ini, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei secara terbuka mengakui bahwa 'ribuan orang telah tewas' dalam rangkaian aksi demonstrasi yang berlangsung di berbagai kota di negara itu.

Pernyataan ini memicu kekhawatiran baru di panggung global, di tengah desakan kelompok internasional dan hak asasi manusia agar Tehran bertanggung jawab atas penanganan protes.

Dalam pidatonya yang disiarkan pada Sabtu, 17 Januari, Khamenei berkata bahwa korban tewas termasuk mereka yang disebutnya “beberapa mati dengan cara yang tidak manusiawi”, yakni sebuah pernyataan yang datang setelah berminggu-minggu pemerintah menutup akses informasi dan membatasi pergerakan jurnalis asing di Iran.

Pengakuan ini sebagai momen penting yang jarang terjadi dalam sejarah Republik Islam Iran, di mana otoritas tertinggi selama ini kerap menepis laporan internasional tentang tingkat kekerasan terhadap para demonstran.

Dalam pidatonya pada Sabtu (17/01), Ayatollah Ali Khamenei mengatakan ribuan orang telah tewas, "beberapa dengan cara yang tidak manusiawi dan biadab". Dia lantas menyalahkan AS atas kematian tersebut.

Khamenei juga mengatakan Iran menganggap Presiden Trump sebagai "penjahat" dan mengatakan AS harus "dimintai pertanggungjawaban" atas kerusuhan baru-baru ini. "Mereka yang terkait dengan Israel dan AS menyebabkan kerusakan besar dan menewaskan beberapa ribu orang," kata Khamenei, seperti dikutip dari BBC Indonesia.

Menurut pernyataannya, Khamenei tidak hanya membahas jumlah korban, tetapi juga mengaitkan aksi protes dengan apa yang disebutnya upaya “pengaruh asing” untuk memecah belah Iran. Ini sekaligus menjadi peringatan bagi pihak internal yang menolak kebijakan pemerintah.

Pernyataan Khamenei ini berbeda dengan posisi pejabat tinggi Iran lainnya sebelumnya, yang cenderung meremehkan jumlah kematian ataupun menyebut tuntutan protes sebagai pemberontakan kecil yang berhasil ditangani.

Kelompok pemantau hak asasi manusia internasional telah berkali-kali memperingatkan bahwa angka korban tewas dan hilang lebih tinggi daripada yang diakui oleh otoritas Iran. Beberapa laporan independen bahkan menyebut jumlah lebih dari 500 orang tewas dalam beberapa pekan pertama aksi protes.

Baca Juga: Banjir Jakarta Hari Ini: Genangan Masih Terjadi di 12 Titik, Ini Update Terbaru

Sementara itu, negara-negara Barat dan organisasi internasional menyerukan penyelidikan penuh dan menegaskan bahwa penggunaan kekuatan berlebihan terhadap demonstran damai adalah pelanggaran HAM yang serius.

Pengakuan terbuka oleh Khamenei ini dipandang oleh beberapa analis sebagai pengakuan tidak langsung atas skala konflik yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya dilaporkan pemerintah Iran sendiri.

Load More