facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Charlotte, Bocah 9 tahun Jadi Yatim Piatu Gegara Corona Ingin Wujudkan Cita Demi Orang Tua

M Nurhadi Sabtu, 07 Agustus 2021 | 13:47 WIB

Charlotte, Bocah 9 tahun Jadi Yatim Piatu Gegara Corona Ingin Wujudkan Cita Demi Orang Tua
Toto Sunarto bersama cucunya Charlotte Michele Verlin Suherman, bocah perempuan 10 tahun jadi yatim piatu usai orangtuanya meninggal diagnosis Covid-19 di Perumahan Reni Jaya, Pamulang, Tangsel. (Suara.com/Wivy)

Kini Charlotte diasuh oleh kakek-neneknya, Toto Sunarto dan Wati Sunarto yang keduanya sudah berusia 73 tahun.

SuaraJakarta.id - Bocah 10 tahun di Kota Tangerang Selatan menjadi yatim piatu usai kedua orangtuanya meninggal dunia setelah sempat didiagnosis positif Covid-19.

Kini, bocah malang itu tinggal bersama kedua simbahnya. Sehari-hari, mereka menyambung hidup dari hasil berjualan telur yang untungnya puluhan ribu. Itu pun jika telur dagangannya laku terjual.

Bocah bernama Charlotte Michele Verlin Suherman adalah anak satu-satunya dari pasangan Feriyanto Suherman dan Claudina Marsha.

Baru usia 10 tahun, dirinya dipaksa kuat menghadapi takdir tanpa kedua orang tuanya.

Baca Juga: Bupati Sleman Pastikan Siap Jawab Tantang Luhut Naikkan Target Capaian Vaksinasi

Sang ayah, Feriyanto, meninggal pada Maret 2020 lalu karena penyakit lambung dan didiagnosis Covid-19. Sementara ibunda, menyusul mendiang suaminya setelah mengalami gagal jantung yang disertai pula dengan Covid-19.

Kini Charlotte diasuh oleh kakek-neneknya, Toto Sunarto dan Wati Sunarto yang keduanya sudah berusia 73 tahun.

Toto bercerita, anak dan menantunya meninggal duia saat Charlotte masih berusia 9 tahun. Meski ditinggal kedua orang tuanya,Charlotte merupakan anak yang tangguh, jarang menangis meski kedua orangtuanya sudah meninggal.

"Sejak kecil memang jarang menangis, setelah orangtuanya meninggal juga biasa aja. Mungkin berusaha tegar," kata Toto.

Di usianya saat ini, kata Toto, cucunya itu bercita-cita ingin menjadi guru les Bahasa Inggris. Cita-cita itu tumbuh dari mendiang ibunya.

Baca Juga: Peneliti Virus Dari Wuhan: Bersiap Hidup Berdampingan Dengan Virus Dalam Jangka Panjang

"Dulu waktu kecil diajari mamahnya bicara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia waktu almarhumah masih ada. Sekarang katanya bilang mau jadi guru les Bahasa Inggris buat anak kecil, mau ngajar anak TK," ungkap Toto haru.

Toto berusaha agar cucunya tak murung usai ditinggal kedua orangtuanya yang wafat lebih dulu. Salah satu caranya dengan diajak latihan berenang.

"Aktivitas sehari-hari sekolah saja, kalau hari Minggu les secara online. Biasanya berenang supaya lupa sama situasi rumahnya, jadi kasih kegiatan saja apa yang dia mau," beber Toto.

Untuk menghidupi istri dan cucunya yang yatim piatu itu, Toto mengandalkan dari hasil penjualan telur. Hasil penjualannya juga tak tentu.

"Ya enggak tentulah, setiap 15 kilo telur untungnya Rp15 ribu. Itu kalau habis sehari, kalau enggak habis ya lumayan saja buat makan kita bertiga," pasrahnya.

Toto bersyukur, lantaran Charlotte termasuk bukan anak yang manja. Anak yatim piatu yang kini duduk di bangku kelas 4 SD itu termasuk penurut.

"Kalau dia minta apa-apa bilang dulu 'mbah maaf ya kalau aku minta ini boleh enggak?' Selalu gitu, kalau kita bilang enggak boleh ya sudah dia enggak maksa. Anaknya tahu diri kok, tahu dia tinggal sama siapa," ungkapnya kagum kepada Charlotte.

Selain mengajak berenang, untuk menghibur saat Charlotte sedih, Toto memperbolehkan cucunya itu memainkan smartphone miliknya dan milik almarhum ayahnya. Bahkan, smartphone ayahnya tak boleh lepas dari genggaman.

"Ya sudah kasih saja hapenya, hapenya dia sama papahnya. Nah hapenya papahnya enggak boleh ketinggalan sama dia. Kalau hapenya dia buat belajar hape papahnya buat main. Yasudah biarin lah buat bahagia," paparnya.

Kini ia tinggal di Perumahan Reni Jaya, Pamulang. Sebelumnya, Charlotte tinggal bersama almarhum kedua orangtuanya di sebuah kontrakan di Gang Salak, Pamulang.

Beberapa bulan lalu, bocah perempuan lainnya Aisyah menjadi yatim piatu lantaran ibunya meninggal di dalam kontrakan di kawasan Pamulang. Kini, Aisyah diasuh oleh Kepala Dinas Sosial Wahyunoto Lukman.

Mendapat Bantuan

Kisah pilu Charlotte yang menjadi yatim piatu usai orangtuanya meninggal diagnosa Covid-19 itu menyita perhatian Komunitas Motor Gede Seneng Kenceng.

Mereka memberikan sejumlah bantuan berupa uang tunai dan paket sembako. Bahkan, untuk menghibur Charlotte diajak berkeliling naik moge.

Founder komunitas moge Seneng Kenceng Wahyu Kandacong mengatakan, aksi sosial itu dilakukan untuk berbagi keceriaan kepada anak-anak yatim piatu yang orangtuanya meninggal karena Covid-19.

"Tidak hanya moge, tapi kami juga memiliki hati yang besar untuk membantu sesama. Mudah-mudahan apa yang kami berikan bisa membantu meringankan beban saudara kita ini," ungkap Wahyu, Jumat (6/8/2021).

Selain itu, aksi tersebut sebagai rangkaian menyambut HUT RI ke-76 pada 17 Agustus mendatang.

"Target kami bisa memberi 76 paket bantuan. Insya Allah nanti kita targetkan ke daerah Cisauk," tuturnya. 

Kontributor : Wivy Hikmatullah

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait