Kriminolog UI Sebut Penyebab Timbulnya Kejanggalan Kasus Penembakan Brigadir J karena Puzzle Belum Lengkap

Kejanggalan yang timbul dalam kasus penembakan Brigadir J bisa juga diakibatkan adanya kesalahan prosedur dalam mengambil data yang tidak lengkap oleh penyidik kepolisian.

Rizki Nurmansyah | Muhammad Yasir
Rabu, 27 Juli 2022 | 21:02 WIB
Kriminolog UI Sebut Penyebab Timbulnya Kejanggalan Kasus Penembakan Brigadir J karena Puzzle Belum Lengkap
Peserta aksi dari Tim Advokat Penegakan Hukum dan Keadilan (TAMPAK) memegang poster saat aksi 1.000 lilin dan doa bersama untuk alm Brigadir J alias Nopryansah Yosua Hutabarat di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (22/7/2022). [ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja]

Menurut teori tersebut, mulai dari awal sampai dengan adanya kematian atau korban adalah pertukaran simbol yang berlangsung dalam suatu interaksi.

"Ada lima tahapan yang pada dasarnya tektok pertukaran simbol dan memaknai sebuah situasi seperti apa. Luckenbill bilang, biasanya kekerasan itu ada trigger, ada yang memulai, ada yang melemparkan simbol, ada yang men-trigger munculnya simbol," bebernya.

Tapi masalahnya, lanjut Kisnu, seringkali seseorang yang men-trigger memunculkan definisi situasi yang baru. Definisi situasi baru ini yang kemudian menyebabkan audiens merespon, dan mendapat respons baik sampai mencapai titik kritis.

"Disitulah kemudian terjadi pembunuhan, kekerasan yang menyebabkan sesorang meninggal dunia. Nah, itu tahap kelima," tuturnya.

Baca Juga:Peroleh Rekaman Kamera CCTV, Komnas HAM Ungkap Temuan Baru Kematian Brigadir J

Sejumlah orang mengangkat peti jenazah almarhum Brigadir Polisi Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J saat pembongkaran makam di Sungai Bahar, Muarojambi, Jambi, Rabu (27/7/2022). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
Sejumlah orang mengangkat peti jenazah almarhum Brigadir Polisi Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J saat pembongkaran makam di Sungai Bahar, Muarojambi, Jambi, Rabu (27/7/2022). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Keunikan dalam teori ini, menurut Kisnu orang yang memulai atau yang melempar trigger justru disebut sebagai pelaku utamanya. Meski, setelah melewati beberapa tahapan yang bersangkutan akhirnya meninggal dunia.

"Pertanyaannya, bagaimana sistem peradilan pidana melihat fenomena ini? Siapa pelakunya?" pungkasnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini