-
Bencana hidrometeorologi di Sumatera-Aceh adalah bukti krisis iklim nyata yang menyebabkan korban jiwa masif (700+ meninggal, 400 hilang), menuntut respons luar biasa dari pemerintah.
-
Kementerian Kehutanan menaikkan target pengurangan emisi Indonesia secara ambisius dari 29% menjadi 43% untuk mendukung pendinginan bumi.
-
Strategi Indonesia FOLU Net Sink 2030 diandalkan untuk mencapai target emisi baru, dengan fokus pada pengelolaan hutan lestari dan penguatan peran hutan adat.
SuaraJakarta.id - Bencana hidrometeorologi dahsyat yang menghantam wilayah Sumatera hingga Aceh bukanlah sekadar musibah tahunan biasa. Tentunya ini adalah bukti nyata bahwa krisis iklim global.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memberikan peringatan keras bahwa anomali cuaca ini menuntut respons yang luar biasa, bukan lagi cara-cara konvensional.
Dalam peluncuran pusat riset I-CAN di IPB University, Staf Ahli Menteri Bidang Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan, Haruni Krisnawati, menyampaikan apresiasinya terhadap langkah akademisi.
"Kami apresiasi atas berdirinya I-CAN, semoga dengan berdirinya I-CAN ini bisa membantu pemerintah dalam upaya Indonesia Emas," ujarnya.
Namun, di balik apresiasi tersebut, terselip data yang membuat miris hati siapa saja yang mendengarnya.
Data yang dipaparkan Haruni adalah validasi yang menyakitkan. Perubahan iklim bukan lagi prediksi masa depan, melainkan pembunuh massal hari ini.
"Urgensi ini semakin terasa dihadapan tantangan iklim global. Seperti kita ketahui bersama, dunia ini sedang adanya iklim global sudah sangat nyata kita rasakan, anomali iklim, banjir dan longsor seperti yang kita rasakan menimpa Sumatera - Aceh," tegas Haruni dalam pemaparannya di Bogor, Rabu (3/12/2025).
Ia kemudian membeberkan statistik terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menggambarkan skala katastropik bencana tersebut.
"Data dari BNPB, Lebih dari 700 orang jiwa meninggal dunia. 400 masih dinyatakan hilang, ini krisis iklim dan perubahan iklim sudah sangat mengancam kita," ungkapnya.
Baca Juga: Cegah Ijazah Palsu, IPB University Terapkan Ijazah Digital Mulai 2025
Angka ini menjadi pengingat bahwa mitigasi dan adaptasi perubahan iklim adalah soal hidup dan mati.
Indonesia memiliki posisi strategis sekaligus beban berat di pundaknya. Sebagai pemilik salah satu hutan tropis terbesar di dunia, nasib iklim global sangat bergantung pada bagaimana kita mengelola hutan.
Haruni menjelaskan bahwa sektor kehutanan adalah pilar terbesar respons Indonesia.
"Hutan Indonesia jadi penyangga iklim Global. Peran hutan ini sangat signifikan untuk Indonesia. Akan menentukan kualitas air, udara, tanah hingga kesejahteraan masyarakat," jelasnya.
Oleh karena itu, pengelolaan hutan lestari bukan hanya soal menjaga pohon, tapi menjaga kualitas hidup manusia di dalamnya.
Pemerintah Indonesia menyadari bahwa perjalanan aksi iklim semakin berat setiap tahunnya. Namun, komitmen untuk berkontribusi pada pendinginan bumi justru ditingkatkan.
Berita Terkait
-
Cegah Ijazah Palsu, IPB University Terapkan Ijazah Digital Mulai 2025
-
Ancaman Baru di Tengah Kota Jakarta: Ledakan Populasi Kucing Liar
-
Penurunan Tanah Jadi Salah Satu Tantangan BPBD DKI Atasi Banjir Rob
-
Ketinggian Banjir di Kebon Pala Capai 1,1 Meter, Kali Ciliwung Meluap Karena Kiriman dari Bogor
-
Viral Video Orang Dicambuk Dalam Mobil, Danpomdam Jaya: Hoaks! Tak Ada Kaitan dengan Kasus Penganiayaan Imam Masykur
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
5 Tahun Holding UMi, BRI Perkuat Pembiayaan dan Pemberdayaan Usaha Ultra Mikro
-
Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI
-
Wajah Baru Museum Kediri, Kini Jadi Pusat Layanan Budaya Terpadu
-
Raih Penghargaan IDX Channel 2026, BRImo Taiwan Jadi Solusi Keuangan Diaspora dan PMI
-
Kasus Dolar Singapura Palsu, Kuasa Hukum Ungkap Janji Imbalan 1.500 SGD Per Lembar