Lima tahun lalu, ia kemudian memilih menjadi anak pun jalanan karena tergiur dengan cerita teman-temannya.
Akibatnya, Doy bahkan sampai diusir oleh orang tuanya yang tak terima dengan keputusannya menjadi anak punk jalanan. Tak hanya itu, ia bahkan sudah tidak dianggap anak.
"Kehidupan di jalan sudah dari kecil. Pernah kejadian sudah kayak kucing sama anjing penampilan nggak sesuai apa yang diinginkan. Diusir, bahkan sudah nggak dianggap sebagai anak lagi," ungkap Widy.
Doy mengakui, semasa hidupnya di jalanan banyak dihabiskan untuk berbuat hal negatif. Mulai dari mengkonsumsi alkohol hingga narkoba setiap harinya.
Baca Juga:Kisah Majelis Preman Tangerang, Bantu Anak Jalanan Hijrah dan Mengenal Adab
![Sejumlah anak punk jalanan tengah mempelajari Al-Qiuran di Pesantren Tasawuf Underground di Ruko Cimanggis Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). [SuaraJakarta.id/Wivy Hikmatullah]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/04/22/48646-pesantren-tasawuf-underground-tangsel.jpg)
Gelisah dan Hijrah
Dua tahun lalu, Doy akhirnya mulai mengikuti pengajian dan memutuskan bergabung ke Pesantren Tasawuf Underground.
Dia memutuskan hijrah lantaran merasa jenuh dan mulai gelisah dengan aktivitasnya di jalanan.
"Kalau lagi mabuk kadang terbesit, mau sampai kapan begini terus. Kedua, memang motivasi saya pengen berubah gitu, jenuh dijalanan, mabok, narkoba. Gelisahlah, mau dibawa ke mana hidup. Ditambah jauh dari orang tua," tuturnya.
Semenjak berada di Pesantren Tasawuf Underground, Widy pun merasa hidupnya berubah 90 persen. Dari mabuk dan narkoba, kini sholat, zikir dan berwirausaha.
Baca Juga:Purna Tugas Jadi Wali Kota Tangsel, Airin: Plong, Lega
"Selama di sini jauh lebih tenang. Saya juga menyadari hubungan saya dengan orang tua sudah jauh, rusak. Tetapi sekarang Alhamdulillah, orang tua sudah tahu dan kembali menerima saya di keluarga," katanya bersyukur.