- Ungkapan "Minal aidin wal faizin" berarti doa agar kembali suci dan meraih kemenangan spiritual pasca Ramadan.
- Secara etimologi, frasa Arab tersebut tidak bermakna permohonan maaf lahir dan batin secara langsung.
- Di Indonesia, kedua makna berbeda tersebut menyatu dalam tradisi sosial Lebaran menjadi satu ucapan utuh.
SuaraJakarta.id - Setiap Lebaran, kita hampir otomatis mengucapkan satu kalimat yang terasa “wajib”: “Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.” Kalimat ini bertebaran di WhatsApp, media sosial, hingga jadi ucapan pertama saat bertemu keluarga.
Namun ada satu hal yang jarang disadari, dan mungkin selama ini luput dari perhatian. Bagian “Minal aidin wal faizin” ternyata bukan berarti “mohon maaf lahir dan batin.”
Kesalahpahaman ini sudah begitu lama dianggap benar, hingga hampir tak pernah dipertanyakan lagi.
Secara bahasa, ungkapan “Minal aidin wal faizin” berasal dari bahasa Arab yang bermakna doa. Kalimat ini berarti “semoga kita termasuk orang-orang yang kembali (ke fitrah) dan meraih kemenangan.” Kata “aidin” merujuk pada mereka yang kembali suci setelah Ramadan, sementara “faizin” menggambarkan orang-orang yang berhasil atau menang secara spiritual.
Baca Juga:Jadwal Imsak Jakarta 20 Maret 2026: Batas Sahur di Akhir Ramadan, Catat Waktu Subuh Hari Ini
Di titik ini, jelas bahwa maknanya tidak berkaitan langsung dengan permintaan maaf. Ia adalah harapan—sebuah doa yang dipanjatkan agar seseorang menjadi pribadi yang lebih baik setelah menjalani ibadah sebulan penuh.
Lalu mengapa kalimat ini hampir selalu disandingkan dengan “mohon maaf lahir dan batin”?
Jawabannya ada pada tradisi lokal. Di Indonesia, Lebaran tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga momentum sosial untuk saling memaafkan. Dua makna ini kemudian “dipertemukan” dalam satu ucapan yang terasa utuh: doa untuk kembali suci, sekaligus ungkapan permintaan maaf atas kesalahan.
Seiring waktu, keduanya seolah menjadi satu paket yang tak terpisahkan, meski sebenarnya berasal dari makna yang berbeda.
Menariknya, ungkapan ini diyakini berakar dari syair Arab klasik: “Ja‘alnallahu wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin,” yang berarti “semoga Allah menjadikan kami dan kalian termasuk orang-orang yang kembali dan menang.” Dari bentuk panjang inilah kemudian lahir versi singkat yang kini begitu akrab di telinga masyarakat Indonesia.
Baca Juga:Cek Lokasi Salat Id Muhammadiyah Jakarta 2026, Ini yang Paling Dekat dari Rumah
Memahami perbedaan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi memberi makna yang lebih dalam pada setiap ucapan. Kita tidak lagi sekadar mengikuti kebiasaan, melainkan benar-benar mengerti apa yang kita sampaikan.
Pada akhirnya, tidak ada yang salah dengan tetap mengucapkan “Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.” Justru, dengan memahami bahwa bagian pertama adalah doa dan bagian kedua adalah permintaan maaf, ucapan tersebut menjadi lebih utuh dan bermakna.
Lebaran pun terasa bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momen refleksi—tentang kembali menjadi pribadi yang lebih baik, sekaligus berani merendahkan hati untuk saling memaafkan.
Dan mungkin, setelah mengetahui ini, ucapan yang selama ini terdengar biasa saja akan terasa jauh lebih dalam dari sebelumnya.