- Mantan finalis Puteri Indonesia Riau diduga menjalankan praktik sebagai dokter gadungan di klinik kecantikan miliknya yang terlihat profesional.
- Klinik tersebut menarik banyak pasien melalui strategi citra publik, harga perawatan yang mahal, serta testimoni di media sosial.
- Praktik medis ilegal tersebut menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan pasien, mulai dari iritasi hingga komplikasi medis yang serius.
SuaraJakarta.id - Semua terlihat meyakinkan hingga akhirnya tidak. Klinik rapi, alat lengkap, dan sosok yang menangani dikenal publik. Kepercayaan pun muncul tanpa curiga.
Dalam kasus dugaan dokter gadungan yang menyeret Jeni Rahmadial Fitri, para korban datang dengan harapan untuk tampil lebih percaya diri, tanpa menyadari bahwa keputusan itu akan mengubah hidup mereka.
Namun, di balik itu, ada pola yang perlahan terbaca.
Tarif yang dipatok bukan angka kecil. Dalam beberapa kasus, biaya perawatan mencapai belasan juta rupiah. Alih-alih membuat ragu, angka tersebut justru memberi kesan eksklusif. Mahal dianggap sebanding dengan kualitas.
Baca Juga:Cek Fakta: Viral Pengajuan Pinjaman Koperasi Merah Putih Lewat WhatsApp, Benarkah Bisa Cair?
Seorang korban menceritakan, ia sempat merasa yakin karena harga yang ditawarkan tidak masuk kategori murah. “Saya pikir kalau mahal pasti profesional. Apalagi yang menangani dikenal,” ujarnya.
Selain harga, citra menjadi kunci. Klinik didesain terlihat modern, bersih, dan meyakinkan. Istilah medis digunakan dalam setiap penjelasan, membuat prosedur terdengar aman dan terukur.
Di media sosial, kepercayaan itu semakin diperkuat. Foto-foto hasil perawatan, testimoni, hingga tampilan gaya hidup yang terlihat sukses menjadi bagian dari strategi membangun keyakinan.
Bagi calon pasien, semua itu seperti potongan puzzle yang saling melengkapi: figur publik, tempat yang meyakinkan, harga tinggi, dan testimoni positif.
Namun di balik itu, tidak semua berjalan seperti yang dibayangkan.
Baca Juga:Viral Visual Balita di Kemasan: Salah Tafsir atau Kurang Memahami Konteks?
Beberapa korban justru mengalami efek yang tidak diharapkan setelah menjalani perawatan. Dari iritasi hingga kondisi yang lebih serius, pengalaman yang seharusnya menjadi langkah memperbaiki diri berubah menjadi masalah baru.
Di titik ini, rasa percaya berubah menjadi penyesalan.
Kasus ini membuka satu hal penting: kepercayaan tidak selalu datang dari hal yang benar. Dalam banyak kasus, justru dibangun dari persepsi—yang terlihat meyakinkan, yang terdengar profesional, yang terasa mahal.
Padahal, dalam dunia medis, satu hal yang paling mendasar bukanlah citra, melainkan kompetensi dan izin yang jelas.
Bagi sebagian korban, pelajaran itu datang terlambat. Namun bagi yang lain, kisah ini bisa menjadi pengingat—bahwa tidak semua yang terlihat meyakinkan benar-benar aman.