Cianjur yang merupakan simbol kekuasaan Sunda dan bercirikan keislaman, saat itu memiliki tradisi mengumumkan waktu Ramadan di Masjid Agung.
Para ulama dan sebagian masyarakat biasanya menunggu hasil keputusan pemerintah dengan berkumpul di masjid, saling bermaafan, dan membawa makanan. Di sanalah mereka menunggu keputusan sambil makan bersama.
Tradisi ini kemudian berkembang ke seluruh wilayah Cianjur dan perbatasannya yang saat itu disebut Jampang, Cidamar, Cihea, Cikalong.
Sehingga tidak mengherankan jika sebagian wilayah Batulayang (Selatan Bandung dan perbatasan Garut) hingga Utara Cibalagung dan Cikalong (sebagian wilayah Purwakarta sekarang) terpengaruh oleh tradisi Papajar ini.
Baca Juga:Jelang Puasa, Pantai Palabuhanratu Diserbu Warga, Rata-rata dari Jakarta
"Tradisi ini terus berkembang, tak hanya berkumpul di masjid, namun ada pula yang ke kuburan berziarah ke makam keluarga maupun ke tempat tertentu untuk bersantai dan makan bersama keluarga," lanjut Irman.
Selain memohon doa dan meminta maaf, salah satu kategori papajar ini seolah sebagai ajang memuaskan diri. Terutama makan minum sebelum puasa Ramadan.
![Suasana Pantai Citepus Istiqomah, Desa Citepus, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi ramai pengunjung, Minggu (7/6/2020). [Sukabumiupdate]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/06/07/59475-suasana-pantai-citepus-istiqomah-desa-citepus-palabuhanratu-kabupaten-sukabumi-ramai-pengunjung.jpg)
Durasi Papajar
Sebenarnya durasi papajar ini bisa dalam masa sebulan sebelum memasuki bulan Ramadan. Dengan aktivitas piknik atau makan bersama sebelum nanti dilarang karena mesti menjalani ibadah puasa.
Namun konsep Papajar semakin berkembang, di mana semula hampir sama dengan munggahan karena dilakukan sehari sebelum Ramadan.
Baca Juga:Walau Berat Menahan Lapar, Puasa Punya Banyak Manfaat Kesehatan, Apa Saja?
Saat ini durasinya berubah menjadi sekitar seminggu sebelum Ramadan karena masyarakat menyesuaikan waktunya dengan libur maupun cuti.