alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Sejarah Masjid Istiqlal Jakarta, Arsiteknya Orang Kristen Bernama Friedrich Silaban

Pebriansyah Ariefana Minggu, 06 Juni 2021 | 09:30 WIB

Sejarah Masjid Istiqlal Jakarta, Arsiteknya Orang Kristen Bernama Friedrich Silaban
Sejumlah aparat keamanan berjaga saat peresmian renovasi Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (7/1/2021). [ ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat]

Masjid Istiqlal salah satu masjid terbesar yang ada di kawasan Asia Tenggara. Masjid Istiqlal sudah ada sejak masa kepemimpinan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

SuaraJakarta.id - Sejarah Masjid Istiqlal tak lepas dari nama Friedrich Silaban, arsiteknya. Uniknya, arsitek Masjid Istiqlal orang Kristen. Nilai toleransi sangat melekat di Masjid Istiqlal, selain itu berseberangan dengan gereja.

Masjid Istiqlal salah satu masjid terbesar yang ada di kawasan Asia Tenggara. Masjid Istiqlal sudah ada sejak masa kepemimpinan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Masjid Istiqlal dibangun dengan makna simbolis sebagai simbol kemerdekaan dan persatuan bangsa Indonesia.

Setelah kemerdekaan bangsa Indonesia pada tahun 1945 Wahid Hasyim, mentri Agama RI pertama bersama Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto dan Sofwan serta dibantu 200 tokoh Islam pimpinan Taufiqorrahman mengusulkan untuk mendirikan sebuah yayasan.

Baca Juga: 10 Sekolah Terbaik di Jakarta Menurut LTMPT

Pada tanggal 7 Desember 1954 didirikanlah yayasan masjid Istiqlal oleh Tjokroaminoto sebagai ketua untuk mewujudkan ide pembangunan masjid nasional tersebut.

Umat Islam menunaikan ibadah sholat Jum'at di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jum'at (7/5/2021).  [Suara.com/Dian Latifah]
Umat Islam menunaikan ibadah sholat Jum'at di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jum'at (7/5/2021). [Suara.com/Dian Latifah]

Dalam proses pembangunan Masjid Istiqlal sendiri, Presiden Soekarno turut serta ambil bagian sebagai kepala bagian teknik pembangunan masjid Istiqlal sekaligus dewan juri dari sayembara maket Istiqlal.

Penentuan lokasi masjid Istiqlal mulanya menimbulkan perbedaan pendapat antara Bung Karno dan Bung Hatta.

Presiden Soekarno berpendapat agar pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan di atas benkas benteng Belanda Frederick Hendrik Bosch pada tahun 1834 yang terletak antara jalan Perwira , jalan Lapangan Benteng, Jalan Katedral, dan Jalan Veteran.

Sedangkan Bung Hatta menganggap pembangunan sebaiknya dilakukan di Jalan Thamrin yang saat itu banyak dikelilingi kampung-kampung mayoritas Islam, serta pembangunan masjid sesuai pendapat presiden Soekarno akan memakan banyak dana, karena harus membongkar benteng yang ada.

Baca Juga: Jadwal PPDB DKI Jakarta 2021 Terlengkap untuk Jalur Zonasi, Prestasi hingga Anak Guru

Namun Presiden Soekarno tetap teguh dengan pendapatnya, dengan tujuan untuk meperlihatkan kerukunan beragama di Indonesia, lantaran di seberang masjid Istiqlal nantinya sudah ada gereja yang berdiri.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait