"Jadi kalau ada tugas, dicatat dulu. Ditandain di buku paketnya. Soalnya handphonenya kan dibawa sama ayah," ungkap Dimas.
Anak kedua dari empat bersaudara itu menuturkan, dirinya sudah mendapatkan bantuan kartu perdana internet sebesar 10 giga byte.
Tetapi, tidak bisa dipakai lantaran kuota internet yang bisa dimanfaatkan hanya 100 mega byte. Sisanya, untuk aplikasi pembelajaran lain.
"Tapi nggak bisa dipakai buat akses internet, WhatsApp aja kadang susah. Jadi terpaksa minta beliin kuota internet lagi ke ibu. Sehari Rp 5 ribu," tutur anak 12 tahun itu.
Baca Juga:Bunuh Anak Sendiri, Pasutri Kubur Jasad Keysya seperti Makamkan Kucing
Terlebih, saat ini Dimas sedang mengikuti ulangan tengah semester (UTS).
Dia tidak bisa lepas dari ibunya untuk membantu mengerjakan soal-soal UTS tersebut.
Sementara itu ibunya, Astri mengaku, sebetulnya aktivitas belajar online itu menambah dirinya semakin stres.
"Kalau dibilang stres mah stres bang, repot, puyeng, tapi mau gimana lagi. Ya jalankan aja, namanya juga kondisinya lagi begini," ungkap Astri.
Dalam sehari, Astri membawa 13-15 makanan ringan berupa makaroni, kerupuk pangsit dan lainnya.
Baca Juga:Terkuak, Fakta Baru Pembunuhan Bocah Keysya oleh Ortu Gegara Belajar Online
Makanan itu dijual seharga Rp 25 ribu.
Sebelum jualan di Serpong, Astri pernah berdagang minuman di kantor RCTI, Trans7, dan lainnya di sekitar Jalan MH Tamrin, Jakarta sebelum adanya pandemi Covid-19 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).