Tak hanya uang, setiap harinya Edwar bisa mendapat sembako di jalanan dari orang-orang yang sengaja berbagi di jalanan. Bahkan, dia bisa mendapat lebih banyak sembako ketimbang saat menjadi sopir angkot.
"Sehari bisa dapat Rp 100 ribu. Tapi kadang di jalan kita dapat sembako, kadang dapat beras, jadi kita ke rumah bisa bawa beras dan nggak perlu beli lagi. Jadi lumayan untuk makan. Dapat sembakonya lebih banyak dibandingkan saat jadi sopir angkot," bebernya.
Dengan penghasilan bersih harian Rp 100 ribu, Edwar bisa berupaya mencukupi kebutuhan hidup istri dan empat anaknya. Serta mampu membayar sewa kontrakan di Ciputat sebesar Rp 600 ribu per bulan, lalu listrik Rp 100 ribu dan uang jajan anak-anaknya.
![Kepala Dinas Sosial Kota Tangerang Selatan Wahyunoto Lukman (kanan) saat memberikan motivasi dan bimbangan kepada belasan manusia silver yang terjaring razia oleh petugas Satpol PP Tangsel, Selasa (29/9/2021). [SuaraJakarta.id-Suara.com/Wivy HIkmatullah]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/09/29/48362-razia-manusia-silver-di-tangsel.jpg)
Modal Rp 20 Ribu
Baca Juga:Satpol PP Tangsel Akui Kesulitan Razia Manusia Silver: Mereka Tahu Jam Patroli
Setiap harinya, Edwar hanya butuh modal Rp 20 ribu untuk membeli cat silver. Kemudian dia pakai berdua bersama temannya. Untuk membersihkannya, Edwar hanya perlu menggunakan sabun cair pencuci piring.
Kali ini, merupakan kali kedua Edwar terjaring razia manusia silver oleh Satpol PP Tangsel. Tetapi, dirinya tak kapok lantaran hanya itu yang bisa dia lakukan untuk saat ini agar dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
"Kita mau berubah, nggak mungkin mau tetap begini. Bapak (Kadinsos Tangsel Wahyunoto Lukman) tadi nasehatin kita ya kita maklumi. Makanya tadi kita nggak lari nurut aja dibawa. Tapi karena keadaan begini, mau gimana lagi," pungkasnya.
Kontributor : Wivy Hikmatullah
Baca Juga:LPAI-KPAI Kecam Bayi Dijadikan Manusia Silver di Tangsel: Jelas Eksploitasi Anak