Selain lahan tanaman mutan, terlihat ada bekas lahan yang digunakan bio gas. Tetapi, toren penampungnya sudah tak ada lagi. Sisanya, hanya lahan persegi yang kini sudah menjadi kolam lele.
Tetapi, masih ada sedikit potongan peralon penyalur bio gas yang terpasang di tembok dapur rumah Sobari itu.
Manfaat bio gas itu sebetulnya ingin dibikmati kembali oleh keluarga Sobari dan santri lainnya. Tetapi harapan itu sepertinya cukup sulit terwujud lantaran Sobari tak memiliki uang untuk mewujudkannya.
Mutasi Radiasi
Baca Juga: Siapapun Menang Pemilu AS, Tak Pengaruhi Kebijakan Iran ke Washington
Benih mutan bukan barang baru dunia, begitu juga di Indonesia. Benih mutan ini dikembangkan lewat aplikasi teknologi isotop dan radiasi BATAN. Teknologi ini dicanangkan untuk berkontribusi terhadap pengkayaan jumlah varietas tumbuhan, baik buah atau juga sayuran.
Di Indonesia pengembangan teknologi nuklir untuk pertanian dan peternakan di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, PAIR-Batan di Jalan Cempaka Lestari II, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Bahasa resmi teknologi ini adalah pemuliaan tanaman dengan teknik mutasi radiasi. Secara singkat prosesnya adalah benih induk disinari dengan radiasi gamma Cobalt-60 dengan dosis 0,20 kilogray. Kilogray satuan radiasi yang aman untuk bahan makanan.
Radiasi mampu menembus biji tanaman sampai ke lapisan kromoson. Struktur kromosom pada biji tanaman dapat dipengaruhi dengan sinar radiasi ini. Perubahan struktur karena radiasi dapat berakibat pada perubahan sifat tanaman dan keturunannya.
Fenomena ini digunakan untuk memperbaiki sifat tanaman agar mendapatkan biji tanaman dengan keunggulan tertentu, misalnya tahan hama, tahan kekeringan, dan cepat panen. Padi yang diradiasi bersifat aman sepenuhnya, tidak ada unsur radioaktif yang tertinggal.
Baca Juga: Bapeten Tingkatkan Keselamatan dan Keamanan Energi Nuklir Lewat IKKN
Pemuliaan mutasi tanaman di Indonesia dilakukan sejak tahun 1970-an. Saat itu BATAN bekerjasama dengan IAEA untuk mendapatkan varietas padi dengan kandungan protein tinggi. Namun di tengah perjalanan, tujuan penelitian berubah untuk mendapatkan varietas yang tahan hama WBC. Di tahun 1976, WBC menyerang hampir semua persawahan di Indonesia, terutama di Sumatera Utara.
Berita Terkait
-
Trump Ancam Bom Iran! Reaksi Keras Jika Tolak Negosiasi Nuklir
-
Sanksi AS Terkait Nuklir Disebut Ilegal, Tiongkok dan Rusia Desak Akhiri Tekanan ke Iran
-
AS Desak PBB Kecam Aktivitas Nuklir Iran, Sebut Sebagai Bentuk Perilaku Kurang Ajar
-
Tiongkok, Rusia, Iran Gelar Latihan Militer di Tengah Ketegangan Nuklir dan Ancaman Houthi
-
Kebocoran Radioaktif di Reaktor Nuklir Terbesar Eropa: Seberapa Bahaya?
Tag
Terpopuler
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Lisa Mariana Pamer Foto Lawas di Kolam Renang, Diduga Beri Kode Pernah Dekat dengan Hotman Paris
- JakOne Mobile Bank DKI Diserang Hacker? Ini Kata Stafsus Gubernur Jakarta
- Chat Istri Ridwan Kamil kepada Imam Masjid Raya Al Jabbar: Kami Kuat..
Pilihan
-
Nova Arianto: Ada 'Resep Rahasia' STY Saat Timnas Indonesia U-17 Hajar Korea Selatan
-
Duh! Nova Arianto Punya Ketakutan Sebelum Susun Taktik Timnas Indonesia U-17 Hadapi Yaman
-
Bukan Inter Milan, Dua Klub Italia Ini Terdepan Dapatkan Jay Idzes
-
Cerita Trio Eks Kapolresta Solo Lancarkan Arus Mudik-Balik 2025
-
Gawat! Mees Hilgers Terkapar di Lapangan, Ternyata Kena Penyakit Ini
Terkini
-
Dermaga Baru PIK: Gerbang Wisata Mewah ke Kepulauan Seribu, Ancol Terancam?
-
Pramono Mau Bikin Layanan Transjabodetabek, Pengamat: 60 Persen Warga Bakal Gunakan Angkutan Umum
-
Omzet UMKM di Jakarta Justru Menurun Jelang Lebaran, Ini Penyebabnya
-
Termasuk Pedagang Taman, Rano Karno Targetkan 500 Ribu Lapangan Kerja Baru di Jakarta
-
Rano Karno Sebut 6 Taman di Jakarta Bakal Buka 24 Jam, Ini Daftarnya