Scroll untuk membaca artikel
Pebriansyah Ariefana
Minggu, 15 November 2020 | 18:23 WIB
Inovasi Teknologi Nuklir di BATAN (Suara.com/Wivy)

Tak hanya itu, radiasi nuklir juga bisa dimanfaatkan di bidang peternakan mulai dari nutrisi pakan hingga reproduksi peternakan. Selain itu, juga bisa digunakan sebagai tracer kesuburan tanah.

Harga Bibit yang Mahal

Ada empat label benih padi yakni, label kuning atau atau benih inti/Breeder seed (BS), label putih atau benih dasar/foundation seed (FS), label ungu atau benih pokok/stock seed (SS) dan label biru atau benih sebar/certified seed (CS)

“Benih hasil pemuliaan tanaman itu berlabel kuning harganya cukup tinggi, sekira Rp 35 ribu perkilogram. Sedangkan benih yang biasa digunakan oleh petani berlabel biru harganya sekira Rp 10 ribu perkilogram. Untuk pembelian benih di BATAN ini, uangnya langsung masuk ke negara,” ungkap Sobrizal.

Baca Juga: Siapapun Menang Pemilu AS, Tak Pengaruhi Kebijakan Iran ke Washington

Hasil pemuliaan tanaman menggunakan radiasi nuklir itu tak sembarangan dipasarkan dan disebar ke petani. Setelah berhasil dibentuk varieties baru, harus dibuat proposal pelepasan varieties terlebih dahulu. Salah satu syaratnya, peneliti harus juga menyiapkan 100 kilogram atau 1 kwintal benih untuk disebar ke petani setelah melewati beberapa generasi dari varietes tersebut hingga mencapai label putih.

Inovasi Teknologi Nuklir di BATAN (Suara.com/Wivy)

“Di saat kita mengajukan calon varietes disidang, lembaga yang melepas varieties itu berkewajiban menyediakan benih padi kelas BS sebanyak 100 kilogram atau satu kwintal. Dari label kuning hingga ke label biru yang digunakan petani diperkirakan memakan waktu satu tahun lebih benih siap sebar,” tutur Sobrizal.

Pengembangan pemuliaan tanaman padi mutan itu hingga saat ini belum merata dilakukan di Indonesia. Hanya ada beberapa daerah yang sudah bekerjasama dengan BATAN dalam mengembangkan varieties baru benih padi mutan itu.

Misalnya di Kabupaten Kerinci, Klaten, Sinjunjung dan daerah lain-lain. Salah satu kendalanya, lantaran keterbatasan sumber daya manusia (SDM) di tingkat daerah untuk melakukan penelitan pemuliaan tanaman tersebut.

“Tetap ada kendala yakni keterbatasan SDM di daerah-daerah. Kalau pertanian sampai ke daerah kan ada. Kalau di BATAN, SDM terbatas, di seluruh BATAN ada sekira 2.000 lebih, di sini (BATAN Lebak Bulus) ada 200 pegawai dan khusus di pertanian hanya ada 20 orang. Jumlah itu memang cukup ideal, tetapi ketika melakukan penelitian di daerah, kita terbatas SDM karena belum ada BATAN provinsi,” ungkap Sobrizal.

Baca Juga: Bapeten Tingkatkan Keselamatan dan Keamanan Energi Nuklir Lewat IKKN

Kontributor : Wivy Hikmatullah

Load More