- Front Mahasiswa Nasional UI mengecam penggusuran 40 rumah di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, untuk pembangunan rusun prajurit TNI.
- Proses pengosongan yang berlangsung sejak April hingga Juni 2026 tersebut memicu bentrokan fisik serta dugaan tindakan represif aparat.
- Warga terdampak mengeluhkan minimnya kompensasi serta ketiadaan dokumen hukum resmi yang mendasari proses pembongkaran lahan tempat tinggal mereka.
SuaraJakarta.id - Penggusuran yang terjadi di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, memicu sorotan dari kalangan mahasiswa. Front Mahasiswa Nasional (FMN) Universitas Indonesia menyebut sedikitnya puluhan rumah warga telah dibongkar dalam proses pengosongan lahan yang diklaim dilakukan untuk pembangunan rumah susun prajurit Denzi Jihandak.
Organisasi mahasiswa tersebut juga mengklaim sejumlah warga dan mahasiswa mengalami luka-luka saat berupaya mempertahankan rumah mereka dan melakukan negosiasi dengan aparat di lokasi.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena tidak hanya menyangkut pembongkaran permukiman warga, tetapi juga munculnya tudingan penggunaan kekuatan berlebihan dalam proses pengosongan kawasan yang telah dihuni masyarakat selama bertahun-tahun.
Dalam siaran pers yang diterima Suara.com, FMN UI menyebut proses pengosongan lahan telah berlangsung sejak April 2026. Namun ketegangan meningkat pada 9 hingga 10 Juni 2026 ketika sebagian rumah warga mulai dibongkar dan sejumlah fasilitas dasar disebut tidak lagi dapat digunakan.
Menurut FMN, aliran listrik ke sejumlah rumah telah diputus sehingga warga yang masih bertahan harus menjalani aktivitas tanpa penerangan. Kondisi tersebut membuat sebagian keluarga memilih tetap bertahan di tengah ketidakpastian mengenai masa depan tempat tinggal mereka.
Situasi semakin memanas pada Rabu (10/6/2026) pagi. FMN menyebut warga bersama sejumlah mahasiswa yang melakukan pendampingan mencoba membuka ruang dialog dan negosiasi terkait proses pengosongan lahan. Namun upaya tersebut diklaim tidak berjalan sesuai harapan.
FMN menyatakan terjadi tindakan kekerasan yang menyebabkan sejumlah warga dan mahasiswa mengalami luka-luka. "Akibatnya, warga, perempuan dan mahasiswa mengalami luka dan berdarah di bagian kepala, telinga, dan memar di tangan," tulis FMN dalam pernyataan resminya.
Sekitar 40 Rumah Disebut Telah Dibongkar
Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam pernyataan FMN adalah jumlah rumah yang terdampak. Organisasi mahasiswa ini memperkirakan sekitar 40 rumah telah dibongkar hingga saat ini. Akibatnya, ratusan warga disebut harus meninggalkan tempat tinggal mereka di tengah belum jelasnya solusi hunian jangka panjang.
Baca Juga: Update Kasus 7 Pemotor Lawan Arah vs Truk di Lenteng Agung, Berakhir Damai
Bagi sebagian warga, persoalan utama bukan hanya kehilangan rumah. Mereka juga menghadapi ketidakpastian mengenai lokasi tinggal berikutnya, akses pendidikan anak, pekerjaan, hingga keberlangsungan kehidupan sehari-hari setelah penggusuran.
FMN menilai proses tersebut menyisakan banyak pertanyaan yang belum terjawab, terutama mengenai mekanisme relokasi dan bentuk perlindungan terhadap warga terdampak.
Selain soal pembongkaran rumah, FMN juga menyoroti persoalan kompensasi yang diberikan kepada warga. Dalam pernyataannya, organisasi mahasiswa menyebut sebagian besar warga tidak menerima kompensasi yang memadai. Sementara bagi warga yang bersedia mengosongkan rumah, disebut diberikan uang sekitar Rp3 juta.
FMN mempertanyakan apakah nilai tersebut cukup untuk membantu warga mendapatkan tempat tinggal baru di wilayah Jakarta yang biaya sewanya relatif tinggi.
Organisasi mahasiswa itu juga mengklaim sejumlah warga tidak pernah diperlihatkan dokumen yang menjelaskan secara rinci status kepemilikan lahan, dasar hukum pengosongan kawasan, maupun proses hukum yang menjadi landasan tindakan tersebut.
Pembangunan Rusun Prajurit dan Kepentingan Warga
Berita Terkait
-
Update Kasus 7 Pemotor Lawan Arah vs Truk di Lenteng Agung, Berakhir Damai
-
Kenapa Pemotor Kerap Lawan Arus? Polisi Ungkap Alasan Klasiknya
-
Berkaca Insiden Lenteng Agung, Heru Budi Minta Digelar Operasi Gabungan Tindak Pelawan Arus
-
Rekonstruksi Pembunuhan Mahasiswa UI di Indekos Depok, Altaf Tusuk Juniornya 30 Kali
-
Iri Korban Lebih Kaya dan Terlilit Utang Pinjol, Mahasiswa UI Habisi Nyawa Juniornya
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Honda Vario 160 Teranyar Dikabarkan Meluncur Akhir Bulan Ini, Tampang Lebih Agresif
Pilihan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
Terkini
-
Puluhan Rumah di Lenteng Agung Dibongkar, FMN UI Sebut Warga dan Mahasiswa Terluka
-
PMB 2026 Universitas Nusa Mandiri Gelombang 4 Dibuka! Daftar Program S1 Hingga Doktoral (S3)
-
Kejati DKI Telusuri Dugaan Mark Up Rp13,5 Miliar di PLN, Desakan Transparansi Menguat
-
Mas Dhito Bakal Rehab Puskesmas Tiron Pasca Kebakaran
-
Konsisten Lakukan Pengawasan Pekerjaan Stadion, Mas Dhito Tegaskan Komitmen Kontraktor