- Banyak anak rantau merayakan Lebaran dari kamar kos karena kendala biaya tiket, pekerjaan, atau kondisi keuangan.
- Komunikasi Lebaran bagi perantau kini mengandalkan panggilan video, walau tetap terasa kehilangan momen kebersamaan fisik.
- Keputusan untuk tidak mudik sering kali merupakan bentuk tanggung jawab, meski terdapat kerinduan mendalam terhadap rumah.
SuaraJakarta.id - Pagi kemarin, takbir tetap berkumandang. Tapi tidak semua orang mendengarnya dari rumah. Di sebuah kamar kos yang sunyi, seorang anak rantau menatap layar ponselnya.
Di sana, wajah ibu muncul, dengan tersenyum, meski jelas menahan rindu. Di belakangnya, ruang tamu rumah terlihat ramai. Ada tawa, ada suara piring, ada suasana yang seharusnya ia rasakan.
Tapi kali ini hanya bisa dilihat. “Udah makan?” tanya sang ibu.
Pertanyaan sederhana. Tapi cukup untuk membuat dada terasa sesak.
Baca Juga:Lebaran Asyik di Jakarta: Keliling Dunia dalam Satu Kawasan, Tanpa Macet-macetan Keluar Kota
Lebaran selalu identik dengan satu hal yakni pulang ke rumah. Tapi kenyataannya, tidak semua orang punya kemewahan itu.
Bagi banyak anak rantau, keputusan untuk tidak mudik bukan karena tidak rindu. Justru sebaliknya, yakni karena terlalu banyak yang harus dipikirkan.
Harga tiket yang melonjak. Pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Atau kondisi keuangan yang memaksa untuk bertahan. Dan di tengah semua itu, rindu harus ditahan.
Di era serba digital, video call memang jadi penyelamat. Dalam satu sentuhan, jarak ratusan bahkan ribuan kilometer terasa “dipendekkan”.
Tapi tetap saja, ada yang hilang. Tidak ada pelukan. Tidak ada duduk berdekatan. Tidak ada momen diam bersama yang terasa hangat.
Baca Juga:Jadwal Imsak Jakarta 20 Maret 2026: Batas Sahur di Akhir Ramadan, Catat Waktu Subuh Hari Ini
Yang ada hanya layar. Dan perasaan yang berusaha disembunyikan di balik senyum.
“Di sini sepi, Bu,” kata Jon, seorang perantau dalam sebuah unggahan yang viral. “Tapi nggak apa-apa, yang penting ibu sehat.” sambungnya, lirih.
Kalimat sederhana. Tapi cukup untuk membuat siapa pun yang membaca ikut merasakan.
Bagi mereka yang tidak pulang, Lebaran bukan lagi tentang keramaian. Bukan tentang baju baru atau meja penuh hidangan.
Lebaran berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi, tapi juga lebih dalam. Tentang belajar ikhlas. Tentang menahan rindu dan tentang tetap tersenyum, meski hati ingin pulang.
Karena pada akhirnya, tidak pulang bukan berarti tidak cinta. Kadang, justru itu bentuk lain dari tanggung jawab.