- Banyak anak rantau merayakan Lebaran dari kamar kos karena kendala biaya tiket, pekerjaan, atau kondisi keuangan.
- Komunikasi Lebaran bagi perantau kini mengandalkan panggilan video, walau tetap terasa kehilangan momen kebersamaan fisik.
- Keputusan untuk tidak mudik sering kali merupakan bentuk tanggung jawab, meski terdapat kerinduan mendalam terhadap rumah.
Cerita seperti ini bukan yang pertama. Semakin banyak anak rantau yang membagikan pengalaman serupa, merayakan Lebaran dari kamar kos, dari tempat kerja, atau dari kota yang belum pernah benar-benar terasa seperti rumah.
Media sosial pun dipenuhi potongan video call, tangkapan layar percakapan keluarga, hingga curahan hati yang sederhana tapi dalam.
Semua mengarah pada satu hal yang sama yakni rindu yang tidak sempat dituntaskan.
“Kami Juga Ingin Pulang”. Di balik semua itu, ada satu kalimat yang mungkin tidak selalu diucapkan, tapi jelas terasa:
Baca Juga:Lebaran Asyik di Jakarta: Keliling Dunia dalam Satu Kawasan, Tanpa Macet-macetan Keluar Kota
“Kami juga ingin pulang.” Ingin duduk di ruang tamu yang sama. Ingin makan dari piring yang sama, dan tentu Ingin tertawa tanpa jeda sinyal.
Tapi untuk sekarang, mereka memilih bertahan.
Lebaran memang tentang pulang. Tapi bagi sebagian orang, pulang bukan sekadar soal jarak. Kadang, pulang adalah tentang tetap terhubung, meski hanya lewat layar. Tentang memastikan orang-orang tercinta tetap dekat, meski tidak bisa disentuh.
Dan di balik setiap panggilan video yang tersambung di hari raya, ada satu hal yang tidak pernah berubah yakni rindu yang tetap sampai, meski tak pernah benar-benar terobati.
Baca Juga:Jadwal Imsak Jakarta 20 Maret 2026: Batas Sahur di Akhir Ramadan, Catat Waktu Subuh Hari Ini